Senin, 05 April 2021

Badai 05April2021

        Bismillahirrohmanirrohim, segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam.

    Senin, 5 April 2021 sekitar jam 21.30 malam, Bangka Belitung khususnya Pangkalpinang, mengalami efek dari cuaca ekstrim, saya menyebutnya badai sesaat. Saya yang sedang mengikuti pembelajaran daring terpaksa harus berhenti sesaat karena ketakutan yang dasyat. Beruntungnya si sulung 7 tahun dan 2 adiknya yang masih balita sudah terlelap sehingga tidak menimbulkan ketakutan dalam diri mereka. Angin yang sangat kencang menimbulkan suara-suara keras berdenting, diikuti suara hujan yang memekik dan lampu-lampu blizz yang datang silih berganti sesekali menerangi pekat nya malam. Suasana sangat mencekam, saya sempat bingung dan shock, untung kesadaran saya lebih mendominasi. Saya berdoa, saya bermunajat kepada tuhan semoga badai cepat berlalu. Saya mengajak seluruh anggota tubuh saya terutama kesadaran dan pikiran saya untuk berkompromi, jika terjadi sesuatu yang lebih buruk, anak-anak harus saya dahulukan. Saya teringat akan gempa dasyat  tahun 1995, waktu itu saya masih menginjak SMA kelas 1. Dunia serasa kiamat, getaran tanah  yang serasa membelah dan akan menelan manusia ke dalam bumi membuat saya harus tetap siaga terhadap ketiga kebahagiaanku. Pikiranku berkecamuk, jika saja sempat diiringi gempa, maka anak-anak harus saya pindahkan ke bawah meja, jangkauan terdekatku adalah dipan tingkat dua, ya, di bawah dipan saya harus menempatkan mereka. Keluar rumah saat badai sangat berbahaya sekali untuk perlindungan diri, cara terbaik adalah tetap berada di rumah sambil menunggu badai berlalu. Ketakutan saya makin menjadi ketika saya sempat melihat informasi dari beberapa grup yang menyatakan bahwa banyak pohon tumbang dimana-mana dan atap bertebaran. Hati-hatilah melintasi kawasan yang rawan. Kekhawatiran saya menjadi-jadi ketika saya mendengar jeritan histeris dan kepanikan tetangga. Mereka teriak karena melihat pohon mangga seolah-olah rata dengan tanah ketika badai berlangsung.

            Beruntungnya saya adalah meskipun suami tidak di rumah, saya masih bisa mengandalkan dua adik laki-laki, suara mereka berdua membuat saya berani keluar kamar dan membuka pintu. Saya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari dari mana asal suara mereka, kemudian saya menemukan mereka sedang memeriksa keadaan atap, siapa tahu ada atap yang kondisinya bisa membahayakan orang lain. Alhamdulillah, kondisinya aman. Saya yang masih dalam rasa takut merasakan dinginnya hembusan angin yang menerpa tubuhku, saya kedinginan.  Saya kembali melihat kondisi anak-anak, Alhamdulillah mereka masih terlelap. Tidak bisa ku bayangkan jikalau saat kejadian mereka dalam  kondisi terjaga, aku akan sangat frustrasi, frustrasi mengatasi rasa takut sendiri dan frustrasi mendengar teriakan dan rasa takut mereka. Belum lagi bunyi-bunyi asing yang sangat kuat seakan memekikkan telinga. 

            Saya kuat karena saya masih punya Tuhan, saya kuat karena ada anak yang harus saya lindungi, dan saya kuat karena saya masih sadar dan bernafas. Alhamdulliah, terima kasih atas nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan keluarga kecil ku, sehingga kami selalu berada dalam lindunganMu, Aamiin.

        Setelah kondisi kembali normal, saya tidak bisa memejamkan mata, rasa kantuk seolah-olah hilang. Agar terhindar dari kemungkinan-kemungkinan buruk pikiran saya, akhirnya saya memilih  mengerjakan tugas membuat resume. Semoga malam-malam berikutnya, tidak ada badai susulan hingga aku bisa tertidur lelap bersama anak-anak.


#Menulis sepanjang hayat#


Pangkalpinang, 06 April 2021

1 komentar:

Gadis pemalu dan sederhana kelahiran 41 tahun yang silam telah memilih tambatan hatinya "guru" sebagai profesi utama dalam nengaru...