Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2021

Mak (Ibu) Wanita terhebatku

Bulan Desember 2021 menjadi   tahun ke 11 dan  bulan ke 10 kepergian Mak. Meskipun telah tiada, beliau selalu terpatri di dalam hati hingga maut menjemput. Mak wanita tegar, kuat dan sabar. Beliau telah mengandungku selama 9 bulan, melahirkanku menjadi bayi mungil, menjaga dan merawatku. 

Siang malam  tidurnya terganggu demi meredakan tangisan dan rengekanku. Aku diajarkan berbicara, aku diajarkan berjalan, aku diajarkan segala hal hingga aku bisa melakukannya sendiri. 

Kehangatan, kasih sayang dan perlindungan selalu ada untukku. Beliau akan bersedih di kala aku sakit, beliau akan merawatku ketika aku sakit, beliau akan selalu menjagaku, tanpa menghiraukan kesehatan beliau. 

Mak adalah sosok inspirasiku dalam menjalani hidup ini.

Perjuangan mak tidak pernah usai, lihatlah bagaimana tekadnya untuk menyekolahkan kami hingga kami menjadi manusia yang cerdas, pintar dan bermanfaat bagi negara. Sosok guru yang sederhana tersebut, selalu mengajarkan kami untuk bersikap jujur, rendah hati, dan bersahabat. 

Kami diajarkan untuk hidup sederhana, kami diajarkan untuk bertanggung jawab, kami diajarkan untuk menjadi manusia yang kuat dan tahan banting dalam keadaan apapun. Ditanamkannya ilmu agama, diajarinya sopan santun, dan diajarinya kami bekerja keras. Itulah sosok yang harus saya banggakan. Kesederhanaannya kadang-kadang membuat orang iri, kesederhanaannya kadang-kadang membullynya, kesederhanaannya membuat keluarga sendiri tidak menyukainya, dan kesederhanaannya itu mengajarkan anak-anaknya bagaimana hidup sederhana dan bijaksana.

Aku baru sadar setelah menjadi seorang ibu, ternyata caramu mendidik kami, ajaran kerasmu dalam pergaulan, dan sikap perhitunganmu dalam menafkahi kami benar-benar luar biasa. Apa jadinya aku, jika dahulu engkau limpahkan banyak uang semasa kuliah? Bisa jadi kuliahku tidak selesai atau malah berantakan karena dimanjakan oleh uang. Apa jadinya aku, jika aku tidak diingatkan untuk selalu menjaga diri? Aku pasti akan terjerumus dengan pergaulan sesat. Apa jadinya aku, jikalau aku tidak melanjutkan pendidikan? Pasti jelas aku tidak akan berhasil seperti hari ini. Kadang aku berpikir, “Bagaimana mungkin sosok perempun sederhana seperti mak bisa berpikir sejauh dan selogis itu?” Benar-benar menakjubkan. 

Penghasilan yang di dapat hari ini, disiapkan untuk persiapan anak sekian bulan ke depan. Ternyata beliau tidak pelit seperti perkiraan gadis kecil dulu, beliau hanya waspada dan jaga-jaga. Jika keadaan mendesak atau terjadi sesuatu yang genting beliau sudah memiliki pegangan. Hebatnya mak dalam segala hal. Aku baru menyadarinya, ketika engkau telah jauh dari hidupku.

Banyak pengajaran mak yang tidak akan pernah aku lupakan. Meskipun seorang guru zaman itu, untuk menghidupi kami berenam, beliau bisa menjadi apapun. Beliau bisa bermertamorfosis menjadi seorang petani, suatu waktu beliau bisa menjadi saudagar. Itulah yang mereka lakoni demi kami. Ketika menjadi petani, hasilnya selalu melimpah, hal itu disebabkan mereka selalu mengingat hak orang lain. Ketika menjadi saudagar, mereka menjadi kepercayaan orang. Bagaimana mungkin mereka mendapat kepercayaan dari orang lain kalaulah bukan kejujuran dan tanggung jawab.

Mak, sampai kapanpun aku akan selalu ingat pesan dan nasehatmu. “Jadilah diri sendiri dan carilah sesuatu untuk peganganmu suatu hari nanti”. Semua nasehat yang disampaikan benar adanya. Terima kasih banyak, mak. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu sampai kapanpun. Aku akan selalu ingat ajaranmu untuk selalu patuh terhadap suami. 

Terima kasih mak,

Perjuanganmu mengajarkan ku untuk tetap menjadi seorang perempuan yang biasa-biasa saja. 

Terima kasih mak, 

atas semua kesederhanan yang engkau berikan. 

Engkaulah sosok wanita terhebatku sampai kapanpun.


Selamat hari ibu,

Jasamu tidak akan terbalaskan hingga maut menjemputku.

I Love You

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Senin, 06 Desember 2021

Bayi Malang

Hati ini bagai tertusuk duri-duri hitam, tajam dan mematikan tatkala melihat seonggok mayat bayi kecil tak berdosa terbaring kaku dalam kresek hitam di pinggir danau yang menjadi tempat memadu kasih jiwa-jiwa muda yang kasmaran, masih lengkap dengan jalan makannya selama masih dalam kandungan. Siapa yang tega membuang sekaligus menghilangkan nyawa bayi perempuan tersebut? Kenapa harus aku yang melihatnya? Ya Allah, puluhan tahun menikah tapi aku belum dipercaya untuk menjadi seorang ibu. Bukan maksud hati meratapi nasib ini, tapi perempuan itu sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan. 

Andai yang kulihat tadi masih bergerak aktif, menangis, dan bernyawa,  akan kupeluk dan kubawa pulang melengkapi kebahagiaan kami yang sedikit gersang. Meskipun suami beserta keluarga besar tidak pernah mempermasalahkan belum hadirnnya malaikat kecil bersayap dalam kehidupan kami, tapi hati dan jiwaku  terasa sangat kosong. Tengah malam yang sunyi, pekat, gelap, mencekam, dan tenang, selalu kuusapkan air yang dingin membeku ke wajahku untuk mensucikan diri sebelum menghadap Sang Kuasa.  Dalam doa kusampaikan salam untuk sang Rasul berserta keluarga dan sahabat beliau, agar segala doa yang kami panjatkan dijabbah Allah SWT.

Tidak kuhiraukan dingin nya angin malam, sambil menatap ke langit ku berdoa semoga segera diberikan rezeki.  Lolongan anjing malam yang memejamkan telinga  menyadarkan lamunan ku tentang memiliki malaikat kecil yang mungil yang selalu menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan. Aku kembali masuk setelah memastikan pintu terkunci. Aku benar-benar tidak bisa memejamkan mata malam ini. Mengingat kejadian pagi tadi menyisakan luka dan duka bagi diriku yang belum mampu menjadi seorang ibu. Entah wanita cantik mana yang tega membuang darah daging sendiri. Jikalau itu hasil sebuah dosa, cukup ibu nya yang berdosa. Astagfirullah, kenapa aku mesti menghakimi dan menghukum orang lain. Belum tentu aku terbebas dari dosa. Ya Allah, maafkan kelancangan mulut hambamu ini. Maafkan kesalahan hambamu yang suka membicarakan aib orang lain. Saya sadar, kesalahanku lebih besar dan lebih banyak ketimbang mereka.

Astagfirullah, apakah salah satu penyebab belum memiliki keturunan dikarenakan tidak bisa menjaga lisan? Astagfirullah, Aku harus banyak dan lebih sering beristigfar hingga terhindar dari dosa yang diciptakan sendiri.


Minggu, 14 November 2021

Manusia berencana Tuhan memiliki ketetapan-Nya

Tak seorangpun mampu melawan kehendak dan takdir-Nya. Sejauh mana pun bersembunyi apa yang telah diterapkan pasti terjadi. Melihat di sekeliling tempat berteduh saat ini, membuat kami tetap bersyukur, ternyata masih ada orang lain yang ujiannya lebih dasyat dari kami.

Kita diberikan kesempatan untuk bernafas, kesehatan, serta nikmat agar bisa bertahan hidup. Kadang kita suka lupa bahwa hidup ini hanya sebentar. Kita juga sering lupa jikalau kita sedang menumpang sehingga sewaktu-waktu kitapun akan dijemput Nya kembali.

Tiada guna meratapi hidup yang singkat ini, berjuang, Berperang, dan berusaha untuk menjadi lebih baik adalah cara yang baik agar tetap bersyukur. 

Melangkah menuju kebaikan sangat sulit dilakukan, tapi usaha harus tetap dilakukan agar biasa bermanfaat buat sesama. 

Sebagai seorang ibu dan istri, saya benar-benar harus siap siaga. Sewaktu-waktu bom akan segera meledak sehingga saya harus mampu mengatasi semuanya. 

Jika saya terlihat kuat, itu hanyalah sebuah topeng agar saya bisa melalui hari demi hari tanpa ingin meratapi ataupun menangisi keadaan saat ini. Belum selesai ujian pertama, Tuhan menguji dengan ujian yang lain, belum selesai kedua ujian tersebut, saya diuji dengan ujian berat lainnya. 

Apa yang akan terjadi jikalau saya hanya menangis, bersedih, dan bahkan tidak kuat? Semua yang dibangun selama ini akan hancur dan tidak bersisa. Kekuatan dan kesabaran yang kumiliki datang Nya juga dari Allah SWT. Jikalau tanpa izin-Nya, Aku juga tidak berdaya.

Saya hanya bisa menjalani skenario yang telah ditetapkan-Nya untukku, moga saja apa yang dititipkan saat ini memberi hikmah yang sangat luar biasa untuk Kami sekeluarga ke depannya. Takkan lari gunung dikejar, takkan hilang rezeki yang di titipkan untuk kami.

Kami hanya disentil sedikit saja untuk menguji sejauh mana kami berterima kasih dan bersyukur atas segala nikmat yang telah dititipkan kepada kami selama ini. 

Semoga kami sekeluarga terutama saya, selalu sehat dan kuat dalam menjalani semua tahapan ujian yang telah ditetapkan-Nya. Semoga kami menjadi orang-orang yang selalu bersyukur akan segala nikmat-Nya. Aamiin.


Gadis pemalu dan sederhana kelahiran 41 tahun yang silam telah memilih tambatan hatinya "guru" sebagai profesi utama dalam nengaru...