Rabu, 26 Mei 2021

Seperti Apa Teknik dalam Mempromosikan Buku?



Tanamkan Kepercayaan Kepada Diri Sendiri Meskipun Yang Dihasilkan Belum Sesuai  Dengan                                                                 Yang Direncanakan

Malam yang cerah bertepatan dengan gerhana bulan, perkuliahan belajar menulis pertemuan ke-18 kembali dimulai. Seperti biasa, malam perkulian kami ditemani penulis-penulis hebat seperti Om Jay, Bunda Kanjeng, bu Aam, dan masih banyak penulis lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. 

Sebelum kelas dimulai, grup dikunci terlebih dahulu oleh moderator yang bertujuan agar peserta fokus terhadap materi yang disampaikan. Tiap pertemuan, moderator bertugas mendampingi narasumber selama perkuliahan berlangsung. Tentu saja tugas pertama moderator adalah menyampaikan tata tertib dan aturan selama kelas berlangsung dan dilanjutkan dengan mempersilahkan narasumber memasuki kelas untuk menyampaikan materi. Moderator juga bertugas memimpin tanya jawab dan menutup kelas diakhir acara. Kebetulan sekali moderator malam ini adalah bu Aam. Wanita yang masih muda dan hebat. 

Narasumber perkuliahan malam ini adalah Akbar Zainudin. Nama Zainudin langsung mengingatkan saya pada sebuah novel terkenal zaman dulu yaitu tenggelamnya kapal Vanderweich. Kalau nggak salah sih. Sempat juga melamun dalam belajar. Pak Zainudian adalah seorang penulis best seller. Amazing dan sekaligus beruntung sekali bisa belajar langsung dengan beliau. Beliau akan menyampaikan materi tentang Teknik Promosi Buku. Tentu saja pertemuan ini pertemuan sangat penting karena tujuan akhir pelatihan ini adalah menerbitkan buku dan seterusnya mau diapakan buku yang telah terbit. Syukur-syukur ada yang tertarik untuk membelinya. Bagaimana cara mempromosikan buku tersebut? Itulah yang akan kami pelajari. Berikut adalah biodata lengkap bapak Akbar Zainudin.

Ibarat dalam mimpi bisa ketemu orang-orang hebat selama pelatihan ini. Setelah membaca biodata beliau, seolah-olah baru selesai menonton seorang aktor ternama. Fantastik! Kata itulah yang keluar dari bibir saya. Beliau adalah penulis ternama yang sukses dengan buku Man Jadda Wajada, kembali menerbitkan buku lanjutan Man Jadda Wajada sebagai penyempurnaan. Berikut saya akan tampilkan dua buku beliau yang harus kita miliki. 


Kehadiran beliau seperti mendapat durian runtuh. Rezeki yang tidak terbayangkan. Beliau akan menjelaskan Strategi Pemasaran Bukuyang dijelaskan dalam buku UKTUB: Panduan Menulis buku dalam 180 hari hasil karya sendiri. Bagaimanakah strategi pemasaran buku yang dimaksud? Sebelum menjelaskan strategi tersebut, beliau kembali mengingatkan kami untuk menentukan dan mengetahui untuk siapa  buku tersebut ditulis? Karena strategi pemasaran untuk tiap umur sangat berbeda. Berikut ini akan dijelaskan tentang cara memasarkan buku menurut bapak Akbar Zauinudin.

STRATEGI PEMASARAN BUKU

Strategi pemasaran terdiri dari 4 P. Apa itu 4 P? DI bawah ini adalah penjelasannya.

1. Product (Strategi Produk).

2. Price (Strategi Harga).

3. Place of Distribution (Distribusi).

4. Promotion (Promosi). 

 STRATEGI PRODUK.

Strategi produk merupakan tanggung jawab penerbit. Penulis hanya sekedar memberikan  masukan kepada penerbit siapa target pembaca dan apa kebutuhan mereka terhadap buku kita. Sehingga konsep buku akan menyesuaikan target audiens.

STRATEGI HARGA. 

Penentuan harga buku juga dilimpahkan kepada penerbit. Ada dua strategi penentuan harga buku yaitu harga buku secara umum dan harga buku yang dijual dengan harga premium (lebih mahal dibandingkan buku biasa). Harga buku  lebih mahal karena mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan buku yang lain. Nilai tambah yang dimaksud seperti;  hard cover, ditambah bonus-bonus (voucher seminar, workshop, dan lain-lain)

STRATEGI DISTRIBUSI

Ada dua cara mendistribusikan buku yaitu; 1) Distribusi tradisional yaitu mendistribusikan buku di  toko-toko buku, baik toko-toko buku jaringan nasional maupun toko buku lokal. 2) Distribusi non tradisional seperti  MLM (Multilevel Marketing), Penjualan Langsung, dan Marketplace/e-Commerce (Lazada, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dll).

STRATEGI PROMOSI

Promosi bisa dilakukan oleh kedua belah pihak baik penerbit maupun penulis. Beberapa program promosi yang bisa dilakukan adalah;

1. Launching buku yaitu program meluncurkan  meluncurkan buku baru. Launching ini bisa dilakukan di berbagai tempat seperti di  aula, masjid, lembaga pendidikan, hotel, dan sebagainya. Siapa yang menanggung biaya launching? Bisa penerbit, bisa penulis. Yang harus dilakukan penulis adalah  meyakinkan penerbit kalau buku yang telah diterbitkan  akan laku di pasaran. Itulah alasan kenapa perlu launching buku. Sebagai contoh Gramedia memiliki tempat untuk launching buku, sebaiknya gunakan tempat tersebut untuk mempromosikan buku kita.

2. Bedah Buku. Apa yang dimaksud dengan bedah buku? Bedah buku adalah semacam acara diskusi untuk membedah semua isi buku. Bedah buku bisa dilakukan secara online maupun offline (denga melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga seperti lembaga pendidikan, perpustakaan, majelis taklim, masjid, dan sebagainya. Bedah buku bisa dilakukan dimana saja tidak perlu cemas berapa orang yang datang. Kondisi seperti sekarang langkah yang paling mudh melakukan bedah buku adalah  secara online. Undang orang sebanyak mungkin bisa via FB, IG, WA Grup, Zoom, dan sebagainya.

3. Melakukan seminar ataupun workshop sesuai dengan tema buku yang ditulis. Sebagai contoh Pak Zainudin memiliki buku motivasi dan menulis. Maka beliau  menyelenggarakan seminar dan diklat terkait motivasi dan menulis secara berkala. Tujuannya supaya buku beliau diketahui dan menyebar dikhalayak ramai. Sehingga orang-orang berbondonv membelinya. 

4. Membangun komunitas. Tuuan membangun komunitas adalah agar penulis lebih dekat dengan pembaca sehingga mudah menawarkan mereka untuk membeli buku. Apa yang dimaksud dengan komunitas menulis? Komunitas menulis  yaitu   komunitas yang berhubungan dengan buku yang telah diterbitkan. Kalau temanya  motivasi, maka tuliskan buku-buku tentang motivasi. Jika buku tentang guru, maka bangun komunitas guru. Buku tentang menulis, maka bangun komunitas menulis. Buku tentang Ice Breaking, maka bangun komunitas Ice Breaking. Buku tentang bahasa, maka bangun komunitas bahasa, dan sebagainya.

5. Membangun jaringan reseller. Apa itu reseller? Reseller adalah orang-orang yang mau menjualkan buku dan mendapatkan buku dari hasil yang terjual seperti dengan memberikan 20-30% komisi dari buku yang terjual. 

5. Menjual buku di marketplace  seperti  (Lazada, Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya). Dengan membuka toko di marketplace akan memperluas promosi dan distribusi buku.

6. Memanfaatkan media sosial (Medsos) untuk mempromosikan buku. Berikan  followers dan subscriber  informasi tentang buku kita setiap hari sehingga orang semakin paham dengan buku yang ditulis. 

Pelatihan malam ini benar-benar menguras energi dan pikiran. Apa yang disampaikan menarik sekali sehingga sangat sulit membuat resumenya. Saya berlari kencang dan terus berlari seperti dikejar seekor srigala. Saking cemasnya tidak tau mau menulis apa. 

Beliau juga menyarankan kami untuk memiliki keterampilan dalam proses promosi buku. Keterampilan yang dimaksud adalah ; 1) Keterampilan berbicara yang baik di depan umum (public speaking). Sehingga saat acara ataupun rekaman di Medsos dan YouTube, menjadi menarik bagi calon pembaca. 2) Kemampuan copywriting yaitu membuat kata menarik untuk promosi dan penjualan. 3) PKeterampilan dalam pemanfaatan teknologi informasi seperti YouTube, WA, IG, Facebook, Zoom, Webex, Google Meet, dan sebagainya. 

Ketika sesi tanya jawab, saya terkesan dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud adalah; 1. Ijinkan saya bertanya adakah tips dari pak Akbar Zainudin terkait dengan produk buku yg dipasarkan agar laris manis di pasaran, sedangkan buku yg kita miliki dari penulis pemula yg blm dikenal namanya? Bagaimana menyikapi orang lain yg tidak mau membeli buku kita, tetapi justru minta gratis? 

Berikut jawaban yang diberikan oleh pak Zainudin,"Waalaikum salam, matur suwun ibu Soleh. Kulo saking Ranjingan niki. Sami-sami, nggih. Hehehee, ada orang satu kampong ternyata. Terkadang, saya juga ngga tahu kenapa buku saya laku, hahaha. Tetapi saya memang selalu berusaha agar buku yang saya tulis itu sesuai dengan kebutuhan audiens. Jadi secara produk, buku kita memang dibutuhkan. Sebelum menulis, coba ditanya kepada diri sendiri, apakah mereka butuh buku saya? Kalau ngga butuh, berarti apa yang mesti saya tambahkan agar mereka butuh. Kalau kita tahu kebutuhan pembaca, akan lebih mudah untuk memasarkannya. Kalau ada orang yang minta gratis, kecuali guru saya biasanya saya tidak kasih, hehehe. Saya bilang begini, kalau mau mencari dan mendapatkan ilmu, jangan pernah memelihara mental gratisan. Ilmunya ngga akan masuk-masuk. Buku saya harus dibeli, nanti saya kasih tanda tangan dan nama Anda di buku saya, disertai doa-doa semoga sukses. Kalau mengeluarkan uang, orang akan serius membaca. Dengan demikian, ilmunya akan gampang masuk. Begitu biasanya saya menyikapi orang yang meminta buku secara gratis. Mudah-mudahan menjawab pertanyaan Ibu."

2. Assalamualaikum. Moto Man Jadda Wajada, sepertinya memang jargonnya Gontor njih. Saat menulis terkait moto itu, jadi familiar dan menarik sekaligus penasaran. Mohon maaf jika saya amati..waaah luar biasa sekali pak Akbar. Sangat luas , kompleks dan maaf rumit. Kayaknya butuh tim besar. Pertanyaan saya adalah langkah yg paling efisien dan efektif untuk pemula gimana bapak? Pemula yg notabene belum punya nama dan belum di kenal. 

Seperti inilah jawabannya. Waalaikum salam. Terima kasih Ibu Diyah. Masukan yang luar biasa, dan hebatnya dari hanya membaca wajah. Keren sekali. Bisa jadi buku khusus itu, Ibu. Dan saya kira sudah membuat saya, khususnya penasaran. Kalau Ibu menulis buku tentang ini, sudah pasti saya mempertimbangkan untuk beli. Hehehe… Begitulah kalau kita menulis. Ada beberapa tipe manusia, manusia yang memutuskan sesuatu dengan logika, dan manusia yang memutuskan sesuatu dengan perasaan. Ada juga kombinasi di antara keduanya.  Nah, ini bukan hanya untuk penulis pemula, buku kita ini ingin menyentuh perasaan orang atau logika para pembaca. Kalau buku saya (Man Jadda Wajada dan The Power of Man Jadda Wajada), saya kombinasikan antara menyentuh perasaan bersalah bahwa mereka selama ini belum mengeluarkan semua potensi mereka. Rasa bersalah ini saya sentuh. Lalu saya kombinasikan dengan logika bagaimana mereka berubah. Misalnya dalam buku saya yang terbaru, The Power of Man Jadda Wajada, ada satu tulisan favorit saya, 8 Cara untuk Berubah.

Jadi, dari sisi produk. Tulisan kita memang sudah mesti menyasar apa kebutuhan pembaca. Kalau pembaca tidak butuh, mana mungkin mereka mau membeli buku kita. Selanjutnya, berhenti selalu menyalahkan diri sebagai penulis pemula. Apalagi kita sudah punya banyak tulisan sebenarnya. Kita ini bukan lagi pemula. Sudah menulis skripsi, RPP, Laporan, Artikel, Buku Antologi, apalagi kalau sudah menulis buku. Yang mesti selalu dipikirkan adalah: “Program apalagi yang bisa saya kerjakan agar membantu penjualan buku saya”. Kita ingin bukunya laku, ya mesti ada program dan upayanya. Tidak bisa kita diamkan. Nah, Tuhan membekali kita dengan akal pikiran yang sempurna. Tinggal menggunakan itu dengan sebaik-baiknya. Hari ini, kita pikirkan, apa yang bisa kita kerjakan untuk mendongkrak penjualan buku. Terus, siapkan, dan lakukan. Setelah itu, evaluasi. Dan rencanakan program apalagi yang bisa dilakukan. Jangan hanya direncanakan, dikerjakan. Rencanakan, kerjakan, evaluasi. Rencanakan, kerjakan, evaluasi. Terus menerus begitu. Akan banyak teorinya, tetapi yang paling penting adalah apa yang akan kita lakukan besok, lusa, dan besoknya lagi untuk mendongkrak penjualan buku saya. Bergerak dan terus bergerak, InsyaAllah akan ada jalan. 

Alangkah luar biasa sekali seorang bapak Zainudin. Saya terpancing untuk bergerak dan terus bergerak. Tapi keadaan menuntut saya untuk tidak bergerak sehingga tidak menghasilkan apapun. Biarlah keadaan ini berlaku seperti ini saat ini. Yang penting saya selalu menanmkan niat di hati untuk selalu menulis dan terus menulis sehingga menulis is habit dan menulis sepanjang hayat. 

Sebagai closing statementnya beliau mengajak kami untuk menunjukkan kemampuan dalam menulis, tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan kalau punya niat. Beliau mengatakan berani saja mulai menulis. Keberanian memang tidak menjamin kesuksesan, tetapi percayalah hanya orang-orang berani yang akan sukses. Menulis itu tentang keterampilan. Semakin rajin dilatih, semakin hebat tulisan kita. Berhenti ikut banyak seminar dan pelatihan kalau tidak pernah latihan. Buat apa? Buat target, bikin rencana, jalankan, dan evaluasi. Buat rencana baru lagi, targetkan, evaluasi lagi. Begitu seterusnya. Gagal? Coba lagi. Gagal lagi? Coba lagi, lagi dan lagi. Sampai kapan? Sampai berhasil.

Closing statement yang sangat luar biasa hebatnya. Memotivasi dan menginspirasi kami untuk senantiasa menulis. Sebenarnya memang tidak ada alasan yang bisa diterima ketika sesuatu yang selalu dilakukan terpaksa dihentikan. Tapi saya merasakan sendiri alasan tersebut. Biarlah alasan ini menjadi kenangan terindah bagi saya, sehingga bisa saya tuliskan alasan tersebut suatu hari hari nanti. Sehingga bisa dibaca oleh penerus-penerus saya nanti. Semoga semangat untuk menulis tidak akan pernah mati sampai ajal menjemput. Semoga gerakan berliterasi ini terus hidup dan menggema sepanjang masa. Salam literasi. 

Tanggal pertemuan: 26/05/2021

Resume ke: 18

Tema: Teknik Promosi  Buku

Narasumber:  Akbar Zainuddin

Gelombang: 18

Pangkalpinang Okmi032021
























11 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih bu Nuryatin sudah berkunjung ke blog saya.

      Hapus
  2. Resume yang luarbiasa dari bunda Okmi. Tulisan bunda Okmi selalu di tulis dengan bahasa kausalitas yang luarbiasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bunda May. Inilah ciri penulis yang hebat pintar sekali menyenangkan hati orang lain.

      Hapus
  3. Wow, resume Bu Okmi paket komplit ini! Dari A sampai Z tak luput dari pengamatan Ibu. Saya hanya mau beri sedikit saran agar tulisannya jangan terlalu panjang dalam satu paragraf. Belum dibaca, saya sudah ngos-ngosan liat penjelasan Ibu di bagian akhir yang menceritakan sesi tanya jawab. Mohon maaf jika kurang berkenan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu Rheny yang baik. Saya juga menyadarinya resume yg saya tulis terutama bagian tanya jawab memang sangat panjang. InsyaAllah ke depannya akan lebih baik lagi.

      Hapus
  4. Luar biasa ewaume bu Okmi, lengkap dan mudah dipahami

    BalasHapus
  5. Resumenya ada manis2nya. Saya senang dengan pembuka nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bu Hesty. He he he... manis kayak permen ya bu.

      Hapus
  6. TOP.... bahasanya manis nian🌹🌹

    BalasHapus
  7. Terima kasih bu Iis. Yang kasih komentar juga manis.

    BalasHapus

Menulis Semudah Ceplok Telur? Benarkah?

Pertemuan ke-29 malam ini ternyata pertemuan malam  terakhir. Tidak terasa tiga bulan sudah mengikuti pelatihan belajar menulis PGRI di bawa...