Jumat, 18 Juni 2021

Menulis Di Kala Sakit, Siapa Takut?


Perkuliahan ke-28 malam ini kembali mempertemukan kami peserta belajar menulis PGRI dengan orang hebat seperti Om Jay, bu Ditta, dan bapak Suharto. Bu Ditta akan menemani kami belajar selama lebih kurang dua jam karena beliau yang akan memandu perkuliahan malam ini. Ada pun materi yang akan disampaikan adalah Menulis Di Kala Sakit. 

Saya bertanya dalam hati, benarkah kita mampu menulis di kala sakit? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya mengikuti dan membaca seputar pengalaman dan apa yang beliau alami selama sakit. Mendengar cerita beliau serasa baru selesai menonton film. Yang pasti saya sangat terharu. Ujian yang luar biasa berat dari Yang Maha Kuasa mampu dilalui oleh Cing Ato. Benar-benar sebuah mukjizat. Semoga Cing Ato segera sembuh dan diangkat semua penyakitnya. 

Apakah Cing Ato memang suka menulis dari awal karir menulisnya? Mari disimak bagaimana pengalaman beliau awal Menulis. Sudah lama saya ingin menulis. Saya sudah berusaha membeli buku tentang tulis-menulis. Saya juga pernah ikut acara jurnalis. Tapi tetap saja tidak bisa menulis. Pernah saya di undang untuk menulis, tapi katanya hasilnya masih kaku, karena sifatnya hanya memindahkan dari buku cetak. Terus terang saya tidak bisa merangkai kata menjadi sebuah kalimat, apalagi kalimat yang indah dan mempunyai ruh atau inspiratif.

Tapi saya tidak putus asa, ketika lagi bumingnya literasi di sekolah-sekolah, saya memcoba masuk kedalamnya. Saya perhatikan peserta didik hanya dipinta membaca buku pada hari tertentu oleh pembina literasi. Saya pun ikut membaca buku, kebetulan saya suka membawa buku selain buku pelajaran. Dari sinilah saya tertarik untuk menulis, walaupun pernah menulis, tapi tidak pernah jadi. Saya mencoba mencari wadah pelatihan menulis. Saya buka Facebook, saya dapati ada pelatihan menulis di wisma UNJ. Di sinilah saya kenal dengan pak Namin, Om Jay, Om Dedi, dan lainnya hingga saya sering ikut kegiatan beliau.

Dari pelatihan tersebut saya sedikit banyak mengetahui cara menulis, terutama apa yang disampaikan oleh Om Jay." Tulis apa yang ada disekitar kita, tulis yang sederhana dahulu, tulis yang kamu bisa dan kuasai, serta mulailah menulis apa yang kamu alami dan rasakan" itulah sepenggal kalimat yang saya pahami sampai sekarang. Tapi kalimat inspiratif yang menjadi kartu nama beliau"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi"  kemudian saya buat turunannya"Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi".

Saya pun berguru lagi dengan media guru, dari sana saya menerbitkan buku perdana solo"Mengejar Azan" buku cerita tentang perjalanan menuntut ilmu. Dasarnya dari Om Jay lalu dipoles oleh media guru. Kebahagiaan tak terkira pada saat itu, mempunyai kebanggaan tersendiri hingga teman-teman ingin memiliki buku saya.Namun,  untung tak dapat diraih dan malang tak dapat dihindari. Tetiba badai tornado menghantam tubuh yang ganteng ini. Lumpuh total tidak ada bisa bergerak bahkan napaspun tak bisa. Hanya tersisa mata, telinga, dan memori. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. 

Berapa lama beliau dirawat? Kita lanjutkan cerita Cing Ato? 1,5 bulan di ruang ICU, 3 bulan di ruang HCU, 2 Minggu di ruang inap biasa. Pulang dalam kondisi lumpuh. Satu tahun badan tak bergerak, setelah satu tahun mulai ada gerakan tangan, butuh enam bulan tangan kiri bisa memegang wajah, lalu disusul tangan kanan. Jari tangan masih kaku dan tidak bisa menggenggam, untuk menekan remot saja tidak mampu. Suntuk itu pasti 1.5 tahun hanya berbaring. Tidak tahu perkembangan dunia luar seperti apa. Oh my God.

Di sini lah cerita semakin menantang. Menulis Dikala Sakit. Suatu hari handphone istri tertinggal dan berdering. Saya coba minta asisten rumah tangga untuk mengambilnya dan meletakkan di atas dada saya. Saya coba untuk menyentuh, Alhamdulillah, bisa terbuka. Dalam hati kecil berkata ke mana ya, handphone milik saya, sudah 1,5 tahun lepas dari saya.

Ketika istri pulang dari sekolah, saya pinta HP saya dan sekaligus minta dibelikan kartu baru. Karena yang lama mati. Tak pikir panjang istri mencari HP dan membelikan kartu baru. Terasa hidup kembali.Saya berusaha menggunakan HP walau tidak bisa menggenggam, cukup beli alat HP lalu disangkutkan pada jari jempol tangan kiri dan menulis menggunakan jari tengah. Bagus jari manis dan kelingking tertekuk hingga tidak menghalanginya untuk menulis. Karena jari tengah yang terpanjang, maka saya gunakan untuk mengetik.  Ternyata semua yang terjadi ada hikmahnya. maka itu syukuri saja dan jangan mengeluh pasti Tuhan punya maksud tertentu.

Mulailah melacak Facebook saya, cukup makan waktu 3 hari baru bisa terlacak. Alhamdulillah, sejak itu saya memposting kondisi saya, hingga banyak simpati dan empati berdatangan.

Dalam hati kenapa saya tidak menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Akhirnya saya menulis apa yang pernah saya baca, lihat, dan saya dengar. Karena saya senang dengan motivasi, maka saya hampir setiap hari menulis artikel sederhana tentang motivasi hidup. Di samping juga menulis tentang apa yang sedang terjadi pada diri saya.

Banyak respon positif berdatangan, hingga banyak yang membaca bahkan selalu menunggu tulisan berikutnya. Saya pun tambah semangat. Sehingga tidak tidur sebelum ketemu bahan untuk ditulis besok. Setiap habis salat subuh hingga jam 7 saya menulis. Menulis sambil rebahan di atas kasur. Setelah saya bisa duduk baru saya menulis di atas roda. Saya menulis di mana saja. Terkadang di atas kasur, di luar rumah ketika menjemur badan, di mobil sambil menikmati macatnya arus lalulintas, di rumah sakit sambil nunggu panggilan dokter. Ya, pokoknya di mana saja ada di situlah saya menulis. Bahkan ketika sedang terapi pun saya suka menulis.

Di tengah perjalanan ada sahabat (Om Jay) yang saya kenal menghubungi saya. Lewat WhatsApp dan vicol. Dia akhirnya mengajak saya untuk ikut pelatihan menulis. Walau dalam serba keterbatasan dan leher masih memakai alat trakeastomi dan hidung masih memakai NGT untuk selang makan. Saya menyatakan ikut. Kalau lelah dan pusing saya tidak ikut, tapi materinya saya simpan diaplikasi catatan. Aplikasi catatan yang ada di HP itu tempat saya menulis setelah itu baru saya share ke blog dan Facebook.

Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi. Turunan kalimat dari Om Jay ini mujarab. Kalimat ini sebagai penyemangat saya, sekaligus saya pun ingin membangkitkan dan mengajak teman keluar dari zona nyaman. Walau terkadang dinyinyir saya tetap maju pantang surut ke belakang. Karena saya ingat pesan Om Dedi"Ingat apa yang menurut kita bagus belum tentu orang lain menerima" artinya terus berjuang. Apa yang terjadi bapak dan ibu guru yang super. Akhirnya teman saya satu persatu mengikuti saya dan mereka sudah mempunyai karya bahkan murid saya pun mengikuti dan sudah menghasilkan karya. Begitu juga teman-teman di medsos dia menulis karena terinspirasi dari saya. Eh, jadi haru

 Dari sinilah lahir buku demi buku secara estapet. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Kemustahilan versus realita berwujud keniscayaan. Kalau kita ingin belajar, belajar, dan belajar pasti kita bisa. Lelah pasti ada apalagi dalam kondisi serba keterbatasan, memegang buku saja saya susah, begitu juga membuka buku. Dengan bantuan istri, anak, dan asisten rumah tangga, saya bisa membaca buku untuk memperkaya tulisan saya. Ya, menulis itu identik dengan membaca. Jangan berpikir menjadi penulis kalau malas baca.

Kemudian saya memcoba untuk membuka laptop walau berat jari ini untuk menekan hurup dan angka, tapi saya paksakan hingga tanpa sadar sebagai media terapi saya jari akhirnya kuat menekan hurup-hurup. Saya pindahkan tulisan yang ada di blog dan Facebook ke laptop. Saya kelompokkan sesuai tema yang saya inginkan. Lalu saya edit hingga menjadi sebuah buku. Untuk mempertajam tulisan saya berguru dengan pak Akbar zaenudin penulis buku best seller Man Jadda wa Wajada. Jadilah sebuah buku motivasi.

Ternyata menulis dikala sakit, banyak yang merespon positif dan inspiratif. Banyak teman guru baik di dunia nyata maupun Maya. Melontarkan kalimat-kalimat sanjungan." Bapak merupakan motivtor saya" " bapak guru inspiratif" " saya malu pada diri saya bapak yang sakit saja bisa berkarya, sementara saya tidak". Itulah di antara kalimat yang terlontar dari para sahabat.

Kedatangan youtuber. 

Bukan saja mendapat sanjungan dari para sahabat medsos. Ternyata para youtuber pun sampai datang berkunjung ke rumah dan berjumpa dengan saya. Mereka melabelkan saya sebagai guru motivator yang inspiratif.

Menjadi Narasumber

Saya tidak menyangka ada orang ngelirik saya untuk diminta menjadi narasumber. Walau dahulu terbersit dalam hati, suatu saat saya akan menjadi narasumber.  Pertama datang dari sahabat saya, dia meminta untuk mengesi pada acara motivasi di grup guru ,tapi saya tolak karena saya masih terbatas bicara. Selanjutnya beliau belum mengabarkan lagi. Walau belum terlaksana, setidaknya memberi motivasi kepada saya. Ternyata ada juga melirik.

Kedua, datang dari Om Jay. Saya liat nama saya ada urutan daftar narasumber, tapi terutulis Cang Ato bukan Suharto. Akhirnya saya cuekin saja. Eh, sudah mendekati waktunya baru saya dihubungi oleh bunda Aam Nurhasanah. Tanpa pikir panjang saya sanggupin saja. Jadilah saya mengisi pada pelatihan menulis gelombang 17. Eh, ternyata dipanggil lagi pada gelombang 18 ini. Ya, sudah kepercayaan seseorang jangan diabaikan. Kesempatan tidak datang dua kali.

Luar biasa sekali seorang Bapak Suharto, dalam keadaan sakit beliau mampu berkarya. Saya sebagai peserta pelatihan sangat ingin tahu bagaimana pean istri beliau ketika sakit, akhirnya saya mengajukan pertanyaan melalui sesi tanya jawab. Izin bertanya. Maaf sebelumnya jika pertanyaan saya agak ngelantur. Bagaimanakah seorang istri menyikapi kondisi bapak di awal bapak mulai menulis ketika sakit dan bagaimana keterlibatan beliau dalam  masa penyembuhan?

Pertama,

Peran istri. Ketika saya sakit yang tersanjung adalah istri saya. Wanita super bukan raganya yang beliau berikan bahkan seluruh warisannya habis untuk biaya saya..

Untuk melihat seorang istri yang hebat, lihat ketika suaminya terkena musibah bertahun-tahun.

Istri saya luar biasa. Untuk melihat bagaimana peranannya silahkan baca buku saya.

Saya belum puas dengan jawaban beliau, karena beliau  menggantung jawabannya. Saya merasa tertantang untuk memiliki buku yang dimaksud beliau.

Berikut adalah karya hebat Cing Ato;

Sebelum sakit

1. Mengejar Azan (2018)

Untuk buku pertama Mengejar Azan. Sebelumnya judul agak seram dan terjadi pro dan kotra. Apa itu? Terpaksa Tuhan Kutantang. Ini adalah sebenarnya rengekan seorang hamba yg hampir putus asa. Karena setiap tes PNS tidak pernah lulus. Pada akhirnya dia berkata kepada Tuhan" Tuhan jika tahun ini Kau tidak luluskan saya jadi PNS, maka saya akan berhenti jadi guru." Apa yang terjadi ternyata rengekannya di dengar. Pas tahun itu dia lulus bersaing dengan 16.000 peserta. Allahuakbar

Setelah sakit

2. GBS Menyerangku (2020)

3. Menuju Pribadi Unggul (2020)

4. Belajar Tak Bertepi (2021)

5. Kisah inspiratif Seni Mendidik Diri (2021)

Masih draft

6. Lentera Romadan 

7. Menulis itu gampang

8. Aisyeh Menunggu Cinte ( novel)  

Insyallah semester genap ini harus terbit.Dan masih banyak yang masih berserakan di blog dan Facebook yang belum dihimpun.

Perkuliahan malam ini, saya tidak banyak menghasilkan tulisan, yang dihasilkan adalah bagaimana menggabungkan cerita dan pengalaman beliau ketika sakit. Saya berkhayal seandainya cerita beliau difilmkan, akan ada berjuta air mata yang luruh. 

Istri beliau pasti orang hebat, sabar, penyayang dan pastinya pintar. Melalui tangan beliau Cing Ato bisa sehat dan berkarya dalam keadaa sakit. Surga hanya miliknya. Mampu kah dan kuatkah saya jika suami saya dalam keadaan seperti itu? Pertanyaan yang berputar di kepala saya. 

Benar-benar cerita yang sangat memotivasi. Belajar, membaca, dan terus menulis menjadi kunci sukses seseorang dalam menulis. Kalimat yang sama yang selalu diulang-ulang oleh nara sumber. Moga saja kami merupakan bagian dari orang yang suka membaca dan belajar seumur hidup. Dengan begitu kemampuan menulis makin baik dan terus diasah hingga menulis is habit dan menulis sepanjang hayat.

Tanggal Pertemuan: 18/06/2021

Resume ke: 28
Tema: Menulis Di Kala Sakit
Nara Sumber: Suharto, S.Ag., M.Pd.
Gelombang: 18

Pangkalpinang Okmi032021

3 komentar:

  1. Mantap bu, kisah yang menginspirasi sekali ya.

    BalasHapus
  2. Luar biasa kisah pak Suharto. Semoga dapat memotivasi dan menginspirasi pembaca

    BalasHapus
  3. Kereen tulisannya bunda Okmi. Sekeren Narasumber kita👍

    BalasHapus

Gadis pemalu dan sederhana kelahiran 41 tahun yang silam telah memilih tambatan hatinya "guru" sebagai profesi utama dalam nengaru...